Google Maps di Sumatera, Kesasar Sampai Lahan Belantara!

Gambar judul postingan, nyasar di belantara Sumatera gara-gara Google Maps

Akhir bulan Oktober 2020 ini ada berkah buat semua pekerja: cuti panjang selama seminggu. Momen itu saya dan keluarga manfaatkan untuk berkunjung ke acara pernikahan sepupu saya di Kerinci, Jambi. Selama perjalanan kami menggunakan aplikasi navigasi Google Maps untuk menunjuk kami jalan di Sumatera, dari Tangerang-Lampung-Palembang-Jambi-Bukittinggi (kami sekalian jalan-jalan dulu hehe)-Kerinci. 
Tapi yang menyebalkannya adalah GPS saya sering kali eror. Posisinya di Maps saya berubah-ubah, paling mentok akurat saya berada di pinggir jalan. Sering banget saya harus kalibrasikan ulang GPS saya, padahal saya adalah navigator dalam perjalanan.
Kalau dibilang mungkin kesalahan sinyal karena ponsel pakai provider yang sinyalnya lemah, enggak juga. Sebab selama perjalanan, kami menggunakan WiFi portabel dan providernya sangat memumpuni—kecuali di beberapa tempat.
Dari sekian hal menyebalkan dari GPS Google Maps yang susah tersambung dan posisinya yang ngawur, yang paling parah adalah saat kami di-direct lewat jalan perusahaan perkebunan sawit. Kejadian ini terjadi saat pulang kondangan di Kerinci dari Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Rencananya, kami ingin lewat Prabumulih karena kota itu cukup dekat dengan tol menuju Bakauheni, Lampung. Navigasi di Google Maps mengatakan bahwa perjalanan ke Prabumulih hanya 5 jam tanpa harus melewati Lahat dan Mura Enim. Jelas saja, kami menuruti jalur tercepat itu, meskipun tidak jelas di Google Maps itu jalan kecamatan, atau alternatif resmi lainnya.
Rute menuju Prabumulih dari Lubuklinggau yang kami kira cepat menuju tol Sumatera
Rute menuju Prabumulih dari Lubuklinggau yang (kami kira) cepat, sedangkan lingkaran merah adalah rute setapak.

Stuck!

Saat perkampungan sudah lewat, lambat laun pepohonan jati, sawit, karet, hingga hutan-hutan yang mengisi tanpa adanya tiang listrik. Begitu pula jalanan yang tadinya aspal berganti menjadi setapak, dan berlumpur. Kami tidak peduli, mungkin sudah jalan yang semestinya dan tercepat. Toh ternyata ada mobil berplat B juga di belakang kami, tentu jalan ini pasti sudah umum.
Sampai akhirnya mobil yang saya naiki tergelincir dan terjebak di lumpur pinggir jalan—rombongan kami ada 2 mobil, yang satu lagi platnya L dan tidak terjebak lumpur. Tak hanya mobil saya, mobil plat B itu juga terjebak di tengah jalan setapak.
Beruntung mobil sebelah terjebak dan cepat keluar, rombongan kami yang plat L aman dan maju terus hingga ke balik bukit beberapa puluh meter di depan. Sedangkan mobil kami masih terjebak, sehingga kami ditolong oleh mobil plat B tersebut.
Dari mobil tersebut ada 3 bapak-bapak yang menolong kami (saya, adik laki-laki saya, ayah, dan supir kami). Kaki hingga baju kami berlumuran lumpur demi mendorong mobil, sangat susah karena ban ternyata masuk ke lumpur cukup dalam. Beruntung pula di sana ditemukan gundukan batu, sehingga kami gunakan untuk menjadi landasan ban depan kami yang tak dapat bergerak.

Bantuan Datang Terlambat

Setelah berhasil keluar dari kubangan lumpur, mobil kami segera ke tengah-tengah jalan yang cukup kering dan keras. Tak lama berselang, mobil rombongan kami yang plat L datang, dan di depannya ada pick-up  abu-abu dengan bannya yang cukup besar.
“Putar balik, pak! Ini jalan kami, bukan jalan umum,” kata supir pick-up. “Kalian salah jalan, jangan ikuti Google Maps.”
Mendengar perkataannya, tandanya sudah banyak korban yang melalui jalan yang bukan untuk umum ini. Jalan ini sebenarnya untuk pekerja perkebunan dari beberapa perusahaan energi, seperti Pertamina, Medco Energy, dan PT Cipta Futura.
Kaki saya berantakan euy.

Akhirnya rombongan kami dituntun oleh pekerja tersebut menuju perkampungan terdekat. Berikutnya kami keluar lewat Lahat dan melanjutkan perjalanan. Sungguh, perjalanan yang merepotkan dan penuh lumpur. Beruntung kami bertemu dengan mereka dan diarahkan keluar. Jika tidak, kami bisa terjebak lagi, ditambah cuaca yang sudah mendung dan bila hujan memungkinkan jalanan makin licin.
Kami langsung cari pom bensin di sekitar Jalan Raya Lintas Sumatera yang mengarah ke Lahat, dan saat keluar. Ta Da! Mobil yang saya tumpangi udah persis kayak babi di kubangan lumpur. 😅
Mobil yang saya naiki kena lumpur karena kesasar di lahan belantara mengikuti arahan Google Maps, bannya penuh dengan lumpur yang mengkerak.
Eh ternyata foto yang saya miliki tak sekotor saat di jalan. Mungkin lumpurnya rontok di jalan.


Terus yang plat B itu kemana? Ia melanjutkan perjalanan, tak mengikuti saran pekerja setempat. Semoga mereka selamat.

***

Perjalanan ini mengjarkan saya satu hal baru, jangan begitu saja percaya dengan Google Maps meskipun rute yang ditawarkan adalah yang tercepat. Kita perlu crosscheck dulu di Google Satelitnya tentang medan dan jenis jalanan apa yang akan kita hadapi.
Adik saya yang punya concern dibidang IT bilang, jalanan ini muncul di Maps bisa jadi karena AI (kecerdasan buatan) Google yang mengira itu jalanan umum. Jalanan terbaca oleh AI karena pernah dideteksi oleh satelit yang pernah lewat, kemudian GPS Google juga membaca adanya pergerakan penggunanya di jalanan itu, sehingga dibuatlah rute.

Untuk meminimalisir kejadian serupa, sebaiknya gunakan Waze saja. Sebab komunitas pengguna Waze lebih aktif daripada Google Maps dalam menginformasikan lalu lintas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*