Buka Pikiran Lewat Traveling, Lebih Sekedar Dari Bacaan Filosofis

Nilai filosofis dari Setiap Perjalanan. Gambar yang memberi simbol sebagai pembuka wawasan atau pikiran saat traveling yang didasari dengan bacaan-bacaan.

Jika kamu tinggal di ibukota, mungkin kamu bosan dan bisa stress karena selalu dengar suara mesin, angin yang berhembus, klakson, mesin lagi, angin, klakson lagi, dan lainnya yang bising dari ibukota kayak iklan Spotify. Kemudian kamu mencoba untuk mengambil cuti, atau mengincar tanggal-tanggal libur kuliah untuk bisa traveling dan melihat sisi lain dunia di luar metropolitan.
Tenang, itu maklum kok. Itu tandanya kamu manusia dan bukan robot. Kegiatan traveling yang bisa dimaksudkan juga sebagai leisure (waktu luang). Jika kamu dapat sadari kegiatan merupakan tindakan filosofis menurut perspektif filsuf Yunani, Aristoteles. Leisure berguna supaya diri kita bisa memikirkan dengan sehat langkah selanjutnya yang perlu kamu ambil dalam menjalani kehidupan.
Ada banyak sebenarnya kegiatan leisure, seperti menonton TV, baca buku, atau berolahraga di gym. Tapi mengapa bisa dibilang traveling itu dapat membantu melihat dunia lebih dari sekedar baca buku filsafat?
Walaupun tulisan ini memberikan buku rujukan, bukan berarti kamu harus membuang-buang waktu untuk membacanya dan menjadi kutu buku. Setidaknya, buku-buku yang jadi rujukan ini menjadi bahan dasar pemahaman kamu sebelum menjelajah. Kamu juga bisa cukup sekedar tahu pemikiran dari pemikir berdasarkan buku bacaan-bacaan lainnya.

Melihat Semesta

Pernahkah kamu berkemah di pantai atau di gunung? Saat berkemah di gunung kamu bisa mendengar sepoi dan sejuknya udara dataran tinggi tersebut. Sedangkan saat di pantai kamu bisa melihat perubahan pasang-surut dan nyiur deru ombak laut. Pernahkah kalian memahami bagaimana itu bisa terjadi? Sistem apa yang bekerja di balik semua fenomena alam? Kemungkinan terbesar dari Alam apa yang dapat membentuk kita menjadi seperti ini? Lalu, apa yang mesti kita perbuat?
Merasakan alam dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Merenungi bagaimana semesta bekerja.

Bagi kamu yang terbiasa dengan membaca buku filsafat dan pengetahuan lainnya, tentu mungkin bisa menemukannya dengan mudah. Tapi bagaimana jika kamu hanya membaca buku saja tapi tidak merasakannya secara langsung? Apakah imajinasi saja sudah cukup?
Agar kita bisa percaya pada suatu pemahaman, perlulah kita melihatnya secara empiris (nyata) tanpa hanya mengamini perkataan seseorang dalam buku. Buku memang jendela dunia, tapi kaca jendela bisa kotor sehingga pandangan kita melihat keluar jendela jadi kabur.
Tapi alangkah lebih idealnya, ketika sebelum melakukan perjalanan yang penuh perenungan kamu perlu membaca buku mengerti dunia. Ibaratnya seperti lihatlah dulu dari jendela, kemudian keluar dan rasakan apa yang ada di luar jendela. Mungkin sebagai dasar jika kamu tidak teralalu suka baca buku, bisa kamu lakukan dengan recall pengetahuan dasar yang pernah diajarkan di sekolah seputar ilmu pengetahuan alam.
Saya menyarankan buku-buku berikut sebelum kamu melakukan perjalanan: buku tentang eksistensialisme seperti Jean Paul Satre, konsep nilai-nilai kosmik seperti buku-buku karya Karen Armstrong, melogikakan pandangan sekitar dengan Madilog karya Tan Malaka, atau yang lebih mudah dibaca seperti buku-buku karya Yuval Noah Harari, dan Agnostic: A Spirited Manifesto oleh Lesley Hazleton.

Melihat Budaya

Kemana pun kita pergi ke tempat jauh, di sana memiliki nilai budaya yang berbeda dengan tempat asal kita atau nilai yang kita miliki. Setiap tempat memiliki nilai filosofi yang berbeda-beda, bahkan ada yang belum terkuak oleh pengetahuan filsafat manapun, meskipun masih termasuk bagian dari filsafat mistik dan rohani.
Merasakan riuhnya budaya dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Sigale-gale, kekayaan budaya di pulau Samosir.
Jika perjalananmu bertujuan untuk belajar, ketahuilah bahwa setiap nilai memiliki unsur kebenaran. Melalui keberadaan kebudayaan yang dimiliki masyarakat setempat, kita dapat mengenal bahwa manusia diciptakan dengan berbagai pemikiran yang bisa dipetik.
‘Seaneh’ apapun nilai yang dimiliki suatu kebudayaan, janganlah dianggap remeh atau rendahan. Karena kebudayaan yang sekelompok manusia memiliki justru menjadi nilai diri mereka untuk tetap hidup.
Inilah yang dimiliki oleh pelancong daripada sekedar membaca buku. Mungkin buku-buku filsafat bisa menjabarkan tentang filsafat mistik atau kebudayaan pada umumnya. Tetapi ketika melakukan perjalanan kamu bisa belajar langsung kepada masyarakat sekitar yang memeluk kebudayaan tersebut, seperti kepala suku dan sepuhnya mengenai nilai filofis yang mereka miliki.

Melihat Sosio-Politik

Hampir sama dengan melihat sisi budaya, masyarakat di suatu negara juga berjalan karena ada landasan peraturan, regulasi, dan undang-undang yang disepakati bersama, atau undang-undang yang ditakuti, sehingga menciptakan kepatuhan. Contoh, kalau kamu main ke Singapura jarang sekali ditemukan orang yang makan permen karet karena ada peraturan yang mengatur dan memberikan sanksi akibat kegiatan tersebut.
Merasakan suasana beda negara dan merenunginya untuk membuka pikiran.
Asiatique The Riverfront di Bangkok, Thailand.

Ada berbagai sisi tentang perkembangan filsafat sosio-politik di suatu negara. Pertama kamu bisa melihatnya dengan bagaimana sebenarnya hukum aturan tersebut dibentuk dan melihat alasannya. Kedua, kamu bisa melihatnya dengan kacamata kritis tentang bagaimana aturan tersebut sebenarnya mengandung unsur ketidakadilan.
Beberapa rujukan buku yang mungkin bisa ‘menyentuh’ pikiranmu soal isu politik yang kamu temukan dalam perjalanan ada banyak sekali. Beberapa di antaranya seperti, The Third Way: Pembaruan Demokrasi Sosial karya Anthony Giddens, hingga yang paling mudah dibaca seperti Mitos Merebut Negara karya Jun Bramantyo.

Referensi Tak Hanya dari Buku ‘Totok’ Filsafat Saja

Tidak semua orang tentu bisa membaca buku filsafat ‘totok’ atau bisa disebut buku yang murni membahas filsafat. Ada banyak pesan-pesan filosofis tersirat di buku atau bacaan lainnya seperti fiksi, majalah, dan artikel media online, yang bisa kamu renungi dulu sebelum atau sesudah traveling.
Traveling memang penting untuk menyantaikan pikiran yang selama ini didikte terus oleh tanggungan kerjaan atau kuliah. Pikiran kita bisa merenung dan memikirkan hal-hal yang kita mau saja untuk memetik nilai dari perjalanan.
Saran jika kamu nanti melakukan perjalanan dengan transportasi umum, alangkah baiknya diisi dengan membaca buku. Lebih baik lagi bacaannya mengenai tempat yang akan dituju supaya bisa mengenal baik lapangan di sana.
Selamat jalan-jalan!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*