Budak Nestapa di Jalur Rempah: Refleksi Laporan di National Geographic Indonesia

Untung Surapati menjadi budak dalam lukisan yang digambar Jacob Coeman tahun 1665.
Dalam lukisan yang dibuat Jacob Coeman tahun 1665 ini, laki-laki di latar yang menjadi budak adalah Untung Surapati. Perbudakan marak terjadi pada masa penjajahan Belanda di Nusantara. (Rijksmuseum)

Saban 23 Agustus, dunia memperingati Hari Penghapusan Budak. Peringatan itu membuat saya jadi teringat laporan eksekutif editor Vice Zing Tsjeng dalam Empires of Dirt di YouTube yang penuh penggambaran pada gedung seperti Universitas, benda seperti patung yang dikenang, usaha, dan jasa yang hari ini dipakai di Inggris Raya, memiliki masa kelam pada perbudakan lewat rute Trans-Atlantik.

Rute itu menggambarkan bagaimana budak, komoditas pertanian, dan politik, memiliki garis sejajar di Samudera Atlantik dari benua Eropa, Afrika, dan Amerika. Budak Afrika itu didapatkan dari penaklukan atau perdagangan manusia yang dilakukan kerajaan-kerajaan setempat.

Kemudian saya menaruh curiga, jangan-jangan apa yang kita banggakan di Nusantara juga memiliki jejak keringat hingga darah perbudakan di masa lalu. Apa yang kita banggakan pada dunia di masa lalu? Tentu: rempah-rempah.Perdagangan rempah itu membuat orang Eropa berkelana melayar samudra luas semenjak jalur sutera dikuasai Kesultanan Ottoman. Penjelajahan ini mengakibatkan penaklukan dan perdagangan yang tidak kalah sadisnya dengan yang terjadi di Afrika dan Amerika.
Ide ini disambut baik oleh Managing Editor di majalah National Geographic Indonesia Mahandis Yoanata Thamrin. Awalnya, ide ini hanya untuk artikel website, tetapi beliau menyarakan untuk diterbitkan di majalah karena tema rempah sedang dibahas di tahun ini.
Untuk membuktikannya, saya mulai cari laporan penelitian di Afrika Selatan dan Belanda terkait isu ini. Tiga penelitian sejarah jurnal Slavery and Abolition, tesis UGM berjudul Budak orang buangan dan perkenier di perkebunan pala :: Perbudakan di Kepulauan Banda tahun 1770-1860, dan buku gratis berjudul The Role of “Brokers” in the Dutch Slave Trade in Madagascar in the Eighteenth Century. Saya juga sempat melakukan wawancara dengan penulis tesis UGM tersebut dan Lilie Suratminto, pegiat arsip data VOC.
Bumbu eksotis yang kita banggakan kejayaannya di masa lalu ternyata memiliki sisi kelam dalam bisnis kolonialisme Belanda di Nusantara dan kerajaan-kerajaan setempat yang mencari untung. Fenomena ini bahkan terjadi di sepanjang jalur rempah, dari Nusantara, India, Madagaskar, Afrika Selatan, Ghana, hingga ke Belanda.
Melalui artikel di majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2021, saya mengungkap beberapa fakta menarik tentang perdagangan rempah dan budak. Saya juga menyertakan peta jalur rempah yang berhubungan dengan perbudakan mancanegara di masa kolonialisme. Ini adalah artikel kedua saya di majalah, setelah saya magang pada awal tahun 2020 lalu yang membahas sejarah kehebatan perempuan Nusantara.
Jadi, bisakah Jalur Rempah yang kita banggakan saat ini sama halnya dengan jalur perbudakan Trans-Atlantik? Saya serahkan itu kembali pada pembaca. Selamat membaca.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*